Rabu, 07 Desember 2022

BAHAN AJAR 3.17. MENGANALISIS PUISI




 

A. Identitas Sekolah

 

Nama Sekolah

:

SMK Budi Utama Panimbang

MATA PELAJARAN

:

Bahasa Indonesia

Kelas/Semester

:

X/Genap

Materi Pokok

:

Puisi

Alokasi Waktu

:

2 X 45 Menit (satu kali pertemuan)

 

B. Kompetensi Inti

 

Kompetensi Inti

KI-1

Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.

KI-2

Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, (toleransi, gotongroyong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan dalam jangkauan dan keberadaannya

KI-3

Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, terkait fenomena dan kejadian tampak mata

KI-4

Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, gaya bahasa, menghitung, menggambar, dan  mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

 

C. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

3.17.  Menganalisis unsur pembangun puisi

3.17.1    Menganalisis tema dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari.

3.17.2    Menganalisis diksi dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari.

3.17.3    Menganalisis imaji dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari.

3.17.4    Menganalisis kata konkret dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari.

3.17.5    Menganalisis rima dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari.

3.17.6    Menganalisis gaya bahasa dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari.

3.17.7    Menganalisis tipografi dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari.

4.17. Menulis puisi dengan memperhatikan unsur pembangunnya (tema, diksi, gaya bahasa, imaji, struktur, dan perwajahan)

4.17.1.      Menulis puisi sesuai tema berdasarkan gambar yang telah ditentukan.

4.17.2.      Menulis puisi dengan memperhatikan gaya bahasa.

4.17.3.      Menulis puisi dengan mengembangkan unsur pembangunnya.

4.17.4.      Mengunggah puisi yang ditulis ke media Wattpad.

 

D. Tujuan Pembelajaran

1.      Melalui membaca puisi peserta didik dapat menganalisis tema dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan benar

2.      Melalui membaca puisi peserta didik dapat menganalisis diksi dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan benar.

3.      Melalui membaca puisi peserta didik dapat menganalisis imaji dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan benar.

4.      Melalui membaca puisi peserta didik dapat menganalisis kata konkret dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan benar.

5.      Melalui membaca puisi peserta didik dapat menganalisis gaya bahasa dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan benar.

6.      Melalui membaca puisi peserta didik dapat menganalisis rima/irama dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan benar.

7.      Melalui membaca puisi peserta didik dapat menganalisis tipografi dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan benar.

E. Deskripsi Singkat Materi

Halo peserta didik, bagaimana kabar kalian ? semoga selalu sehat dan semangat. Kali ini kalian akan mempelajari salah satu karya sastra yaitu puisi. Kompetensi dasar yang harus kalian selesaikan adalah menulis puisi sesuai unsur pembangunnya. Unsur tersebut adalah suasana,tema,dan makna. Dengan memperhatikan unsur pembangun tersebut maka apabila kita akan menulis puisi maka paling tidak kalian sudah terbekali dan menghasilkan puisi yang baikdan indah.

 

Puisi merupakan karya sastra berisi perasaan penyair yang menggugah emosi pembaca melalui rangakaian kata-kata yang indah. (mahrukhi , 2017: 187) Emosi penyair yang disalurkan melalui kata- kata menciptakan suasan tertentu saat dibaca sehingga pembaca dapat memahami dan menghayati peristiwa atau hal yang terjadi dalam puisi tersebut.

 

Tertarik kah kalian untuk belajar tentang puisi dan cara menulisnya? Baiklah mari kita mulai saja.

 
F. Materi Pembelajaran Menulis Puisi

1.    Pengertian puisi

2.    Unsur instrinsik dan ekstrinsik puisi

1.      Pengertian Puisi

Puisi merupakan bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna.

2.      Ciri-ciri Puisi

2.1.        Puisi Lama

Puisi Lama merupakan puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan yaitu sebagai berikut ini :

1)   Jumlah kata dalam 1 baris

2)   Jumlah baris dalam 1 bait

3)   Persajakan (rima)

4)   Banyak suku kata di tiap baris

5)   Irama

 

a.      Ciri-ciri Puisi Lama

1)   Tak diketahui nama pengarangnya

2)   Penyampaiannya yang bersifat dari mulut ke mulut, sehingga merupakan sastra lisan.

3)   Sangat terikat akan aturan-aturan misalnya seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata ataupun rima.

2.2.          Puisi Baru

Puisi Baru merupakan puisi yang tidak terikat lagi oleh aturan yang mana bentuknya  lebih bebas dari pada puisi lama dalam segi jumlah baris, suku kata, ataupun rima. Ciri-ciri puisi baru

2.2.1.      Mempunyai bentuk yang rapi, simetris

2.2.2.      Persajakan akhir yang teratur

2.2.3.      Memakai pola sajak pantun dan syair walaupun dengan pola yang lain

2.2.4.      Umumnya puisi 4 seuntai

2.2.5.      Disetiap baris atasnya sebuah gatra (kesatuan sintaksis)

2.2.6.      Ditiap gatranya terdiri dari dua kata (pada umumnya) : 4-5 suku kata

3.         Unsur Pembangun Puisi

3.1         Perwajahan Puisi (tipografi)

Tipografi ialah bentuk format suatu puisi, seperti pengaturan baris, tepi kanan-kiri,  halaman yang tidak dipenuhi kata-kata. Perwujudan puisi ini sangat berpengaruh pada pemaknaan isi puisi itu sendiri. Misalnya pada puisi Noorca Marendra berjudul “Di” memiliki bentuk atau tipografi segitiga.

3.2         Diksi

Diksi merupakan pemilihan kata yang dilakukan oleh seorang penyair dalam mengungkapkan puisinya sehingga didapatkan efek sesuai dengan yang diinginkan. Pemilihan kata pada puisi sangat berkaitan dengan makna yang ingin disampaikan oleh si penyair.

3.3         Imaji

Imaji ialah susunan kata dalam puisi yang bisa mengungkapkan pengalaman indrawi sang penyair (pendengaran, penglihatan, dan perasaan) sehingga dapat mempengaruhi audiens seolah-olah merasakan yang dialami sang penyair.

3.4         Kata Konkret

Kata konkret merupakan bentuk kata yang bisa ditangkap oleh indera manusia sehingga menimbulkan imaji. Kata-kata yang dipakai umumnya berbentuk kiasan (imajinatif), misalnya penggunaan kata “salju” untuk menjelaskan kebekuan jiwa.

3.5         Gaya Bahasa

Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa yang bisa menimbulkan efek dan konotasi tertentu dengan bahasa figuratif sehingga mengandung banyak makna. Gaya bahasa ini bisa disebut juga dengan majas (metafora, ironi, repetisi, pleonasme, litotes, dan lain-lain).

3.6         Rima/ Irama

Irama/ rima ialah adanya persamaan bunyi dalam penyampaian puisi, baik di awal, tengah, maupun di akhir puisi.

3.6.1. Berdasarkan jenis bunyi yang diulang, ada 8 jenis rima yaitu sebagai berikut:

1.    Rima sempurna, yaitu persamaan bunyi pada suku-suku kata terakhir.

2.    Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.

3.    Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak.

4.    Rima terbuka yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata akhir terbuka atau dengan vokal sama.

5.    Rima tertutup yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).

6.    Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.

7.    Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.

8.    Rima disonansi yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada huruf-huruf mati/konsonan.

3.6.2. Berdasarkan jenis-jenis rima, dapat dilihat secara vertikal (persamaan bunyi pada akhir baris dalam satu bait). Jenis-jenisnya sebagai berikut:

1. Rima sejajar berpola            : a-a-a-a

2. Rima kembar berpola           : a-a-b-b

3. Rima berpeluk pola              : a-b-b-a

4. Rima bersilang pola             : a-b-a-b

 

 

 

 

Baca dan cermatilah puisi berikut ini dengan saksama!

Perantauan

                        Karya Fiersa Besari

 

Teruntuk Ibuku sayang,

Maaf, aku belum bisa pulang,

Mengadu nasib di negeri orang,

Kerap bergadang demi peluang.

Iya, aku masih ingat kau pernah bilang

Bahwa yang terpenting bukanlah uang,

Namun,

aku tak ingin hari tuamu serba kurang,

Hanya karena aku tidak cukup keras berjuang.

 

Bertanding kasih denganmu,

Aku takkan menang,

karena demi aku,

maut pun rela kau tantang

 

Tapi Ibu,

izinkan anakmu membanting tulang,

Seberes urusan,

aku akan secepatnya datang

 

Karena di punggung tanganmu yang tenang,

adalah tempat keningku berpulang,

Dan jemaah denganmu kala sembahyang,

adalah kebahagiaan yang tak pernah lekang

 

 

Analisis unsur pembangun puisi “Perantau” karya Fiersa Besari

1.    Tipografi

Tipografi adalah tatanan larik atau bait puisi yang dibentuk sedemikian rupa untuk mendukung isi dari puisi. Tipografi atau perwajahan puisi merupakan bentuk visual untuk memperindah bentuk puisi. Juga berfungsi sebagai anasir hiasan bentuk, dan memberi petunjuk bagaimana seharunya puisi itu dibaca.

Puisi “Perantau” tidak memiliki tipografi khusus. Penulisan puisi ini tidak memiliki kriteria tipografi berbentuk nyeleneh atau berbeda. Teknik penulisan seperti pada umumnya  menggunakan rata kiri seperti yang tertera diatas.

2.    Gaya Bahasa

Sesuai dengan hakikat puisi sebagai pemusatan dan pemadatan ekspresi, bahasa kias dalam puisi merupakan sarana pengendepanan sesuatu yang ganda menjadi tunggal. Kata akan mengalami pemadatan dan dibiaskan dari makna realistisnya, sehingga kata-kata mengalami perluasan makna.

Pemadatan dan pembiasan ini biasanya menggunakan majas sebagai medianya. Adapun macam-macam majas antara lain, metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anaphora, pleonasme, antithesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Majas-majas yang sifatnya lugas ini banyak disematkan kedalam puisi guna membangkitkan tanggapan atas pembaca. Perantau menggunakan sebagian dari majas-majas diatas, antara lain :

2.1. Majas Litotes (gaya bahasa yang menyatakan perlawanan dari kenyataan atau realita sosial). Tujuan dari majas litotes adalah untuk merendahkan diri kepada lawan bicara.

Bertanding kasih denganmu,

Aku takkan menang,

I                                   Pada larik tersebut terdapat makna yang memiliki tujuan merendahkan diri kepada orang lain.

2.2. Majas Personifikasi (gaya bahasa yang menunjukkan seolah-seolah suatu benda tak bernyawa dapat bergerak atau bersifat seperti yang bisa dilakukan oleh manusia).

Karena di punggung tanganmu yang tenang,

adalah tempat keningku berpulang

          Pada kata yang bercetak miring memiliki gaya bahasa personifikasi karena kening dianggap dapat bergerak atau bersifat seperti yang dilakukan oleh manusia.

3.    Citraan atau imaji bagi penyair merupakan kata atau serangkaian kata yang digunakan untuk membangun komunikasi estetik atau untuk menyampaikan pengalaman inderawinya. Citraan bagi pembaca merupakan pengalaman inderawi yang ditimbulkan oleh sebuah kata atau serangkaian kata, sehingga pembaca seolah-olah ikut merasakan, mendengar, menyentuh , dan melihat apa yang digambarkan oleh penyair.

Dalam puisi “Perantau” karya Fiersa Besari banyak menggunakan citraan.

3.1.       Citraan visual (pengimajian dengan menggunakan kata-kata yang menggambarkan seolah-olah objek yang dicitrakan dapat dilihat)

Karena di punggung tanganmu yang tenang adalah

tempat keningku berpulang.

3.2.     Citraan auditif (pengimajian dengan menggunakan kata-kata ungkapan seolah-olah objek yang dicitrakan sungguh-sungguh didengar oleh pembaca).

Iya, aku masih ingat kau pernah bilang bahwa,

yang terpenting bukanlah uang

 

3.3.       Citraan taktil (pengimajian dengan menggunakan kata-kata yang mampu mempengaruhi perasaan pembaca sehingga ikut terpengaruh perasaannya).

Bertanding kasih denganmu,

Aku takkan menang,

karena demi aku,

maut pun rela kau tantang

 

4.   Diksi

Pilihan kata yang dipilih oleh pengarang terhadap karya sastranya (puisi). Karenadi dalam puisi terdapat makna yang terkandung dan harus dipilih dan diperhatikanoleh pengarang seacara teliti. Dalam puisi “Perantauan” Karya Fiersa Besari diksi yang dipakai mengandung makna yang sama dengan tema yang digunakan,dengan penggalan sebagai berikut 

 

Mengadu nasib di negeri orang

 

Pada diksi yang ditulis miring, memiliki makna konotasi yaitu upaya untuk mengubah kehidupan yang lebih baik.

 

5.    Kata Konkret

Sebuah kata yang bisa dirasakan oleh indera yang dapat mendorong imajinasi pembaca ketika membaca puisi tersebut. Maksudnya adalah penulis memberikan kata yang membuat para pembaca seolah-olah mengerti makna dari puisi tersebut.

Dalam puisi “Perantauan” Karya Fiersa Besari kata konkret sebagai berikut :

 

Hanya karena aku tidak cukup keras berjuang.

 

Pada larik tersebut terdapat kata keras yang memiliki gambaran  upaya maksimal yang dilakukan oleh “aku lirik”

6.        Rima

6.1.   Rima tak sempurna

Teruntuk Ibuku sayang,

Maaf, aku belum bisa pulang,

Mengadu nasib di negeri orang,

Kerap bergadang demi peluang.

Iya, aku masih ingat kau pernah bilang

Bahwa yang terpenting bukanlah uang

6.2.   Berdasarkan jenisnya, dalam puisi “Perantauan” terdapat jenis-jenis rima diantaranya:

1.   Rima bersilang pola (a-b-a-b)

Bertanding kasih denganmu,

Aku takkan menang,

karena demi aku,

maut pun rela kau tantang

 

2.   Rima sejajar berpola (a-a-a-a)

Karena di punggung tanganmu yang tenang,

adalah tempat keningku berpulang,

Dan jemaah denganmu kala sembahyang,

adalah kebahagiaan yang tak pernah lekang

Berikut ini adalah link sebuah puisi karya Fiersa Besari https://youtu.be/yTIBBrJEQtI  

 

 

 

 

 

 

 

 

G. Rangkuman

1)      Puisi merupakan bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna.

2)      Unsur-unsur dalam puisi meliputi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam puisi yaitu diksi, imaji, majas, bunyi, rima, ritme, dan tema. Sedangkan unsur ekstrinsik puisi yaitu aspek historis, aspek psikologis, aspek filsafat, aspek religius.

 

 

H. Evaluasi Mandiri

 

EVALUASI

1. Perhatikan kutipan puisi berikut!

Di dinding-dinding rumahku

Kelelawar-kelelawar terdiam

Begitu tenang

Seperti tengah sembahyang

Khusyuk telungkup

Di balik sayup terkatup

Barangkali mensyukuri hidup

Majas yang terdapat dalam larik keempat puisi tersebut adalah . . .

a. Personifikasi

b. Hiperbola

c. Repetisi

d. Asosiasi

e. Metonimia

 

2. Bacalah puisi berikut!

Bebukitan membentukmu

Gunung kapur nyata

Pada kemarau kau lara

Ada yang lupa

Kau adalah surga yang tersembunyi

Kata lara dalam kutipan puisi tersebut melambangkan . . .

a. Kekeringan

b. Kemiskinan

c. Kesengsaraan

d. Kesepian

e. Kekhawatiran

 

3. Perhatikan kedua kutipan berikut!

Puisi 1

Kaki

. . .

kaki ka pai ka ma katamu kataku kaki ka pai lai

kaki ka pai ka ma katamu kataku

kaki ka pai kini

kaki ka pai ka ma katamu

kataku kaki

ka pai

juo

kaki ke mana kita katamu kataku diamlah kau

kaki kau kaki katak kuku katak kuku kau

kuku kuda kuku kau kaki kuda kaki

kau

Puisi 2

Doa

Tuhan

Beri aku kemerdekaan dari rasa kecemasan

Atas ejekan orang

Atas nistaan orang

Atas dilupakan orang

Atas disepelekan orang

Atas dipermalukan orang

Atas takdipedulikan orang

Atas dianggap-enteng orang

Perbedaan pola penyajian kedua puisi tersebut adalah . . .

Puisi 1 Puisi 2

A Tipografi anak tangga Tipografi zig-zag

B Tipografi tidak teratur Tipografi piramida

C Tipografi piramida Tipografi anak tangga

D Tipografi zig-zag Tipografi anak tangga

E Tipografi anak tangga Tipografi piramida

 

4. Bacalah kutipan puisi berikut!

Sajak Matahari

Matahari bangkit dari sanubariku 1

Menyentuh permukaan samodra raya2

Matahari keluar dari mulutku 3

Menjadi pelangi di cakrawala

Wajahmu keluar dari jidatku 4

Wahai kamu, wanita miskin!

Kakimu terbenam di dalam lumpur 5

Larik yang menyimbolkan kesengsaraan terdapat pada larik berangka . . .

a. 1

b. 2

c. 3

d. 4

e. 5

 

5. Perhatikan puisi berikut!

Untuk Nang

                        Karya Siti Nadiroh

 

Tapi bukankah hidup terlalu berharga bahkan untuk sekadar mengetahui sedikit hal itu?

Bukankah jalan kita terlalu terjal untuk dilewati sembari memikul pertanyaan-pertanyaan tadi?

Apalagi kita pun bertelanjang kaki

Kata kias yang tepat untuk melengkapi puisi tersebut adalah . . .

a. Bertelanjang kaki

b. hdiup berharga

c. mengetahui

d. sekadar

e. terjal

BAHAN AJAR 3.17. MENGANALISIS PUISI

  A. Identitas Sekolah   Nama Sekolah : SMK Budi Utama Panimbang MATA PELAJARAN : ...