HUTAN MANGROVE
Mangrove
adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat air payau dan air laut.
Mangrove merupakan tanaman hasil dari kegiatan budidaya atau diambil dari alam.
Menurut Suprianto (2007) mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh di antara
garis pasang surut tetapi juga dapat tumbuh pada pantai karang, pada daraan
koral mati yang di atasnya ditimbuni selapis tipis pasir atau ditimbuni lumpur
atau pantai berlumpur. Hutan mangrove adalah salah satu jenis hutan yang banyak
ditemukan pada kawasan muara dengan struktur tanah rawa dan/atau padat.
Hutan
mangrove merupakan tipe hutan tropika yang khas tumbuh di sepanjang pantai atau
muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut, mangrove dapat
ditemukan di pantai-pantai teluk yang dangkal. Mangrove tumbuh optimal di
wilayah pesisir yang memiliki muara sungai besar. Mangrove juga dapat tumbuh di
substrat berlumpur karena memiliki akar-akar khusus yang berfungsi sebagai
penyangga sekaligus penyerap oksigen dari udara di permukaan air secara
langsung. Tipe perakaran mangrove terbagi menjadi akar tongkat, akar lutut,
akar cakar ayam, akar papan, dan akar gantung.
Ada
pun vegetasi hutan mangrove dibagi menjadi empat, pertama vegetasi semak yaitu
vegetasi yang berasal dari spesies pionir yang berada di pantai berlumpur atau
berada di tepi laut. Vegetasi semak mempunyai karakteristik diantaranya adalah
tumbuh dengan sangat kuat, mempunyai banyak cabang, tunas anakan, membnentuk
rumpun, rimbun dan pendek. Kedua, vegetasi mangrove muda yang dicirkan oleh
vegetasi dengan satu lapis tajuk seragam seperti Rizhphora sp walaupun terdapat spesies-spesies pionir lainnya. Ketiga,
vegetasi mangrove dewasa tipe ini dicirkan dengan Rhizophora sp yang besar dan tinggi. Keempat yaitu nipah yang
dicirikan dengan adanya spesies nipa sebagai spesies utama yang tumbuh di dekat
muara dan tempat pertemuan air tawar dan air asin.
Indonesia
adalah salah satu negara yang mempunyai hutan mangrove (hutan bakau) terbesar
di dunia, yaitu mencapai 8,60 juta hektar, meskipun saat ini dilaporkan sekitar
5,30 juta hektar jumlah hutan itu telah rusak (Gunarto, 2004). Ekosistem
mangrove memiliki manfaat eknomis yaitu hasil kayu dan bukan kayu misalnya
budidaya air payau, tambak udang, pariwisata, dan lainnya. Mangrove tidak hanya
memiliki manfaat ekonimis namun juga memiliki manfaat secara ekologis yaitu
berupa perlindungan bagi ekosistem daratan dan lautan seperti dapat menjadi
penahan abrasi atau erosi gelombang atau angin kencang. Produk mangrove yang
sering dimanfaatkan manusia adalah kayu yang digunakan sebagai bahan bakar,
bahan pembuat perahu, pengawet jaring, lem, bahan pewarna kain, dan lain-lain.
Selain
itu, manfaat mangrove juga sebagai ekowisata. Ekowisata merupakan paket
perjalanan menikmati keindahan lingkungan tanpa merusak ekosistem hutan yang
ada. Ekowisata mangrove adalah kawasan yang memiliki keunikan dan kekhasan
tersendiri karena keberadaan ekosistem ini berada pada muara sungai atau
estuaria. Vegetasi hutan yang terletak melintang dari arah arus laut merupakan
keindahan dan keanekaragaman vegetasi yang berbeda dari formasi hutan lainnya.
Terlihat dari keunikan penampakan vegetasi mangrove berupa perakaran yang
mencuat keluar dari tempat tumbuhnya. Disamping keindahan vegetasi penyusunannya
terdapat pula satwa liar dari kelas Aves, Mamalia, dan Reptilia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar