A. Identitas Sekolah
|
Nama Sekolah |
: |
SMK Budi Utama Panimbang |
|
MATA PELAJARAN |
: |
Bahasa Indonesia |
|
Kelas/Semester |
: |
X/Genap |
|
Materi Pokok |
: |
Puisi |
|
Alokasi Waktu |
: |
2
X 45 Menit (satu kali pertemuan) |
B. Kompetensi
Inti
|
|
Kompetensi Inti |
|
KI-1 |
Menghargai dan menghayati ajaran agama yang
dianutnya. |
|
KI-2 |
Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin,
tanggung jawab, peduli, (toleransi, gotongroyong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan dalam jangkauan dan
keberadaannya |
|
KI-3 |
Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan
prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, terkait
fenomena dan kejadian tampak mata |
|
KI-4 |
Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret
(menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi,
dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, gaya bahasa, menghitung,
menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang
dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori |
C. Kompetensi Dasar
dan Indikator Pencapaian Kompetensi
|
KOMPETENSI DASAR |
INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI |
|
3.17.
Menganalisis unsur pembangun puisi |
3.17.1 Menganalisis tema dalam
puisi “Ibu” karya Fiersa Besari. 3.17.2 Menganalisis diksi dalam
puisi “Ibu” karya Fiersa Besari. 3.17.3 Menganalisis imaji dalam
puisi “Ibu” karya Fiersa Besari. 3.17.4 Menganalisis kata konkret
dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari. 3.17.5 Menganalisis rima dalam
puisi “Ibu” karya Fiersa Besari. 3.17.6 Menganalisis gaya bahasa
dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari. 3.17.7 Menganalisis tipografi
dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari. |
|
4.17.
Menulis puisi dengan memperhatikan unsur pembangunnya (tema, diksi, gaya
bahasa, imaji, struktur, dan perwajahan) |
4.17.1. Menulis puisi sesuai tema
berdasarkan gambar yang telah ditentukan. 4.17.2. Menulis puisi dengan
memperhatikan gaya bahasa. 4.17.3. Menulis puisi dengan
mengembangkan unsur pembangunnya. 4.17.4. Mengunggah puisi yang
ditulis ke media Wattpad. |
D. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui membaca puisi peserta
didik dapat menganalisis tema dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan
benar
2. Melalui membaca puisi peserta
didik dapat menganalisis diksi dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan
benar.
3. Melalui membaca puisi peserta
didik dapat menganalisis imaji dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan
benar.
4. Melalui membaca puisi peserta
didik dapat menganalisis kata konkret dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari
dengan benar.
5. Melalui membaca puisi peserta
didik dapat menganalisis gaya bahasa dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari
dengan benar.
6. Melalui membaca puisi peserta
didik dapat menganalisis rima/irama dalam puisi “Ibu” karya Fiersa Besari dengan
benar.
7.
Melalui
membaca puisi peserta didik dapat menganalisis tipografi dalam puisi “Ibu”
karya Fiersa Besari dengan benar.
E. Deskripsi Singkat Materi
Halo peserta
didik, bagaimana kabar kalian ? semoga selalu sehat dan semangat. Kali ini
kalian akan mempelajari salah satu karya sastra yaitu puisi. Kompetensi dasar
yang harus kalian selesaikan adalah menulis puisi sesuai unsur pembangunnya. Unsur tersebut
adalah suasana,tema,dan makna. Dengan memperhatikan
unsur pembangun tersebut maka apabila kita akan menulis puisi maka paling tidak kalian sudah terbekali dan menghasilkan puisi yang
baikdan indah.
Puisi merupakan
karya sastra berisi perasaan penyair yang
menggugah emosi pembaca melalui
rangakaian kata-kata yang indah. (mahrukhi , 2017: 187) Emosi penyair yang disalurkan
melalui kata- kata menciptakan suasan tertentu saat dibaca sehingga pembaca dapat
memahami dan menghayati peristiwa atau hal yang terjadi dalam
puisi tersebut.
Tertarik kah kalian untuk belajar
tentang puisi dan cara menulisnya? Baiklah mari kita mulai saja.
F. Materi Pembelajaran Menulis Puisi
1.
Pengertian puisi
2.
Unsur instrinsik dan ekstrinsik puisi
1. Pengertian Puisi
Puisi merupakan bentuk karya sastra
dari hasil ungkapan
dan perasaan penyair
dengan bahasa yang terikat irama,
matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna.
2. Ciri-ciri Puisi
2.1.
Puisi Lama
Puisi Lama merupakan puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan yaitu sebagai berikut
ini :
1) Jumlah kata dalam 1 baris
2) Jumlah baris dalam 1 bait
3) Persajakan (rima)
4) Banyak suku kata di tiap baris
5) Irama
a.
Ciri-ciri Puisi Lama
1) Tak diketahui nama pengarangnya
2) Penyampaiannya yang bersifat dari mulut ke mulut, sehingga merupakan sastra lisan.
3) Sangat terikat akan aturan-aturan misalnya seperti jumlah
baris tiap bait, jumlah suku kata ataupun rima.
2.2.
Puisi Baru
Puisi Baru merupakan puisi
yang tidak terikat
lagi oleh aturan
yang mana bentuknya lebih bebas dari pada
puisi lama dalam segi jumlah baris, suku kata, ataupun rima. Ciri-ciri
puisi baru
2.2.1. Mempunyai bentuk
yang rapi, simetris
2.2.2. Persajakan akhir yang teratur
2.2.3. Memakai pola sajak pantun
dan syair walaupun
dengan pola yang lain
2.2.4. Umumnya puisi 4 seuntai
2.2.5. Disetiap baris atasnya sebuah
gatra (kesatuan sintaksis)
2.2.6. Ditiap gatranya terdiri dari dua kata (pada umumnya)
: 4-5 suku kata
3.
Unsur Pembangun Puisi
3.1
Perwajahan Puisi (tipografi)
Tipografi ialah
bentuk format suatu puisi, seperti pengaturan baris, tepi kanan-kiri, halaman
yang tidak dipenuhi kata-kata. Perwujudan puisi ini sangat berpengaruh pada pemaknaan isi puisi
itu sendiri. Misalnya pada puisi
Noorca Marendra berjudul “Di” memiliki bentuk atau tipografi segitiga.
3.2
Diksi
Diksi merupakan
pemilihan kata yang dilakukan oleh seorang penyair dalam mengungkapkan puisinya sehingga
didapatkan efek sesuai
dengan yang diinginkan. Pemilihan kata pada puisi sangat berkaitan dengan makna yang
ingin disampaikan oleh si penyair.
3.3
Imaji
Imaji ialah
susunan kata dalam puisi yang bisa mengungkapkan pengalaman indrawi sang penyair (pendengaran, penglihatan, dan perasaan) sehingga dapat mempengaruhi audiens
seolah-olah merasakan yang dialami sang penyair.
3.4
Kata Konkret
Kata konkret
merupakan bentuk kata yang bisa ditangkap oleh indera manusia sehingga
menimbulkan imaji. Kata-kata yang dipakai umumnya
berbentuk kiasan (imajinatif), misalnya penggunaan kata “salju” untuk menjelaskan kebekuan
jiwa.
3.5
Gaya Bahasa
Gaya bahasa
merupakan penggunaan bahasa yang bisa menimbulkan efek dan konotasi tertentu dengan bahasa figuratif
sehingga mengandung banyak
makna. Gaya bahasa ini bisa
disebut juga dengan majas (metafora, ironi, repetisi, pleonasme, litotes, dan lain-lain).
3.6
Rima/ Irama
Irama/ rima ialah adanya
persamaan bunyi dalam
penyampaian puisi, baik di awal,
tengah, maupun di akhir puisi.
3.6.1. Berdasarkan jenis bunyi yang diulang, ada 8 jenis rima yaitu
sebagai berikut:
1. Rima sempurna, yaitu
persamaan bunyi pada suku-suku kata terakhir.
2. Rima tak sempurna, yaitu
persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
3. Rima mutlak, yaitu persamaan
bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak.
4. Rima terbuka yaitu persamaan
bunyi yang terdapat pada suku kata akhir terbuka atau dengan vokal sama.
5. Rima tertutup yaitu persamaan
bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
6. Rima aliterasi, yaitu persamaan
bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang
berlainan.
7. Rima asonansi, yaitu
persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
8. Rima disonansi yaitu
persamaan bunyi yang terdapat pada huruf-huruf mati/konsonan.
3.6.2. Berdasarkan jenis-jenis rima, dapat dilihat
secara vertikal (persamaan bunyi pada akhir baris dalam satu bait).
Jenis-jenisnya sebagai berikut:
1.
Rima sejajar berpola : a-a-a-a
2.
Rima kembar berpola : a-a-b-b
3.
Rima berpeluk pola : a-b-b-a
4.
Rima bersilang pola : a-b-a-b
Baca dan cermatilah puisi berikut ini
dengan saksama!
Perantauan
Karya Fiersa Besari
Teruntuk Ibuku sayang,
Maaf, aku belum bisa pulang,
Mengadu nasib di negeri orang,
Kerap bergadang demi peluang.
Iya, aku masih ingat kau pernah bilang
Bahwa yang terpenting bukanlah uang,
Namun,
aku tak ingin hari tuamu serba kurang,
Hanya karena aku tidak cukup keras berjuang.
Bertanding kasih denganmu,
Aku takkan menang,
karena demi aku,
maut pun rela kau tantang
Tapi Ibu,
izinkan anakmu membanting tulang,
Seberes urusan,
aku akan secepatnya datang
Karena di punggung tanganmu yang tenang,
adalah tempat keningku berpulang,
Dan jemaah denganmu kala sembahyang,
adalah kebahagiaan yang tak pernah lekang
Analisis unsur pembangun puisi “Perantau” karya Fiersa Besari
1. Tipografi
Tipografi adalah tatanan larik atau bait puisi yang dibentuk sedemikian rupa untuk mendukung
isi dari puisi. Tipografi atau perwajahan puisi merupakan bentuk visual
untuk memperindah bentuk puisi. Juga
berfungsi sebagai anasir hiasan bentuk, dan memberi petunjuk bagaimana seharunya
puisi itu dibaca.
Puisi
“Perantau” tidak memiliki tipografi khusus. Penulisan puisi ini tidak memiliki kriteria
tipografi berbentuk nyeleneh
atau berbeda. Teknik
penulisan seperti pada umumnya
menggunakan rata kiri
seperti yang tertera diatas.
2. Gaya Bahasa
Sesuai dengan
hakikat puisi sebagai pemusatan dan pemadatan ekspresi, bahasa kias dalam puisi merupakan sarana pengendepanan
sesuatu yang ganda menjadi tunggal. Kata akan
mengalami pemadatan dan dibiaskan dari makna realistisnya, sehingga
kata-kata mengalami perluasan makna.
Pemadatan dan
pembiasan ini biasanya menggunakan majas sebagai medianya. Adapun macam-macam majas antara lain, metafora,
simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anaphora,
pleonasme, antithesis, alusio,
klimaks, antiklimaks, satire,
pars pro toto, totem pro
parte, hingga paradoks. Majas-majas yang sifatnya lugas ini banyak disematkan kedalam puisi guna
membangkitkan tanggapan atas pembaca. Perantau menggunakan sebagian
dari majas-majas diatas,
antara lain :
2.1. Majas Litotes (gaya bahasa yang menyatakan perlawanan dari kenyataan
atau realita sosial). Tujuan dari majas litotes adalah untuk merendahkan diri
kepada lawan bicara.
Bertanding kasih denganmu,
Aku
takkan menang,
I Pada larik
tersebut terdapat makna yang memiliki tujuan merendahkan diri kepada orang
lain.
2.2. Majas Personifikasi (gaya bahasa yang menunjukkan seolah-seolah
suatu benda tak bernyawa dapat bergerak atau bersifat seperti yang bisa
dilakukan oleh manusia).
Karena di punggung tanganmu
yang tenang,
adalah tempat keningku berpulang
Pada kata yang bercetak miring
memiliki gaya bahasa personifikasi karena kening dianggap dapat bergerak atau
bersifat seperti yang dilakukan oleh manusia.
3. Citraan atau imaji bagi
penyair merupakan kata atau serangkaian kata yang digunakan untuk membangun komunikasi estetik atau untuk
menyampaikan pengalaman inderawinya.
Citraan bagi pembaca merupakan pengalaman inderawi yang ditimbulkan oleh sebuah kata atau serangkaian kata, sehingga
pembaca seolah-olah ikut merasakan,
mendengar, menyentuh , dan melihat apa yang digambarkan oleh penyair.
Dalam puisi “Perantau”
karya Fiersa Besari banyak menggunakan citraan.
3.1. Citraan visual (pengimajian
dengan menggunakan kata-kata yang menggambarkan seolah-olah objek yang
dicitrakan dapat dilihat)
Karena di punggung tanganmu
yang tenang adalah
tempat keningku berpulang.
3.2. Citraan auditif (pengimajian
dengan menggunakan kata-kata ungkapan seolah-olah objek yang dicitrakan
sungguh-sungguh didengar oleh pembaca).
Iya, aku masih ingat kau
pernah bilang bahwa,
yang terpenting bukanlah uang
3.3. Citraan taktil (pengimajian
dengan menggunakan kata-kata yang mampu mempengaruhi perasaan pembaca sehingga
ikut terpengaruh perasaannya).
Bertanding kasih denganmu,
Aku takkan menang,
karena demi aku,
maut pun rela kau tantang
4. Diksi
Pilihan kata yang dipilih oleh pengarang terhadap karya sastranya
(puisi). Karenadi dalam puisi terdapat makna yang terkandung dan harus dipilih
dan diperhatikanoleh pengarang seacara teliti. Dalam puisi “Perantauan” Karya
Fiersa Besari diksi yang dipakai mengandung makna yang sama dengan tema yang
digunakan,dengan penggalan sebagai berikut
Mengadu nasib di negeri orang
Pada diksi yang ditulis miring,
memiliki makna konotasi yaitu upaya untuk mengubah kehidupan yang lebih baik.
5.
Kata
Konkret
Sebuah kata yang bisa dirasakan
oleh indera yang dapat mendorong imajinasi pembaca ketika membaca
puisi tersebut. Maksudnya adalah penulis memberikan kata yang membuat
para pembaca seolah-olah mengerti makna dari puisi tersebut.
Dalam puisi “Perantauan” Karya Fiersa Besari
kata konkret sebagai berikut :
Hanya karena aku tidak cukup keras berjuang.
Pada larik tersebut terdapat kata keras yang memiliki gambaran upaya maksimal yang dilakukan oleh “aku
lirik”
6.
Rima
6.1. Rima tak sempurna
Teruntuk Ibuku sayang,
Maaf,
aku belum bisa pulang,
Mengadu
nasib di negeri orang,
Kerap
bergadang demi peluang.
Iya,
aku masih ingat kau pernah bilang
Bahwa yang
terpenting bukanlah uang
6.2. Berdasarkan jenisnya, dalam
puisi “Perantauan” terdapat jenis-jenis rima diantaranya:
1. Rima bersilang pola (a-b-a-b)
Bertanding
kasih denganmu,
Aku
takkan menang,
karena
demi aku,
maut pun rela kau tantang
2. Rima sejajar berpola
(a-a-a-a)
Karena
di punggung tanganmu yang tenang,
adalah
tempat keningku berpulang,
Dan
jemaah denganmu kala sembahyang,
adalah
kebahagiaan yang tak pernah lekang
Berikut ini adalah link sebuah puisi
karya Fiersa Besari https://youtu.be/yTIBBrJEQtI
1) Puisi merupakan bentuk
karya sastra dari hasil ungkapan
dan perasaan penyair
dengan bahasa yang terikat irama,
matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna.
2) Unsur-unsur dalam puisi
meliputi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam puisi yaitu diksi, imaji, majas,
bunyi, rima, ritme, dan tema. Sedangkan unsur
ekstrinsik puisi yaitu
aspek historis, aspek psikologis, aspek filsafat, aspek religius.
H. Evaluasi Mandiri
EVALUASI
1.
Perhatikan kutipan puisi berikut!
Di dinding-dinding rumahku
Kelelawar-kelelawar terdiam
Begitu tenang
Seperti tengah sembahyang
Khusyuk telungkup
Di balik sayup terkatup
Barangkali mensyukuri hidup
Majas yang terdapat dalam larik keempat puisi tersebut adalah . . .
a. Personifikasi
b. Hiperbola
c. Repetisi
d. Asosiasi
e. Metonimia
2.
Bacalah puisi berikut!
Bebukitan membentukmu
Gunung kapur nyata
Pada kemarau kau lara
Ada yang lupa
Kau adalah surga yang tersembunyi
Kata lara dalam kutipan puisi tersebut melambangkan . . .
a. Kekeringan
b. Kemiskinan
c. Kesengsaraan
d. Kesepian
e. Kekhawatiran
3.
Perhatikan kedua kutipan berikut!
Puisi 1
Kaki
. . .
kaki ka pai ka ma katamu kataku kaki ka
pai lai
kaki ka pai ka ma katamu kataku
kaki ka pai kini
kaki ka pai ka ma katamu
kataku kaki
ka pai
juo
kaki ke mana kita katamu kataku diamlah
kau
kaki kau kaki katak kuku katak kuku kau
kuku kuda kuku kau kaki kuda kaki
kau
Puisi 2
Doa
Tuhan
Beri aku kemerdekaan dari rasa kecemasan
Atas ejekan orang
Atas nistaan orang
Atas dilupakan orang
Atas disepelekan orang
Atas
dipermalukan orang
Atas takdipedulikan orang
Atas dianggap-enteng orang
Perbedaan pola penyajian kedua puisi tersebut adalah . . .
Puisi 1 Puisi 2
A Tipografi anak tangga Tipografi zig-zag
B Tipografi tidak teratur Tipografi piramida
C Tipografi piramida Tipografi anak tangga
D Tipografi zig-zag Tipografi anak tangga
E Tipografi anak tangga Tipografi piramida
4. Bacalah kutipan puisi
berikut!
Sajak Matahari
Matahari bangkit dari sanubariku 1
Menyentuh permukaan samodra raya2
Matahari keluar dari mulutku 3
Menjadi pelangi di cakrawala
Wajahmu keluar dari jidatku 4
Wahai kamu, wanita miskin!
Kakimu terbenam di dalam lumpur 5
Larik
yang menyimbolkan kesengsaraan terdapat pada larik berangka . . .
a.
1
b.
2
c.
3
d.
4
e.
5
5.
Perhatikan puisi berikut!
Untuk
Nang
Karya Siti Nadiroh
Tapi bukankah hidup terlalu berharga bahkan untuk sekadar mengetahui
sedikit hal itu?
Bukankah jalan kita terlalu terjal untuk dilewati sembari memikul
pertanyaan-pertanyaan tadi?
Apalagi kita pun bertelanjang kaki
Kata kias yang tepat untuk melengkapi puisi tersebut adalah . . .
a. Bertelanjang kaki
b. hdiup berharga
c. mengetahui
d. sekadar
e.
terjal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar